Apa yang diraih Israel di Iran sesudah 11 hari pemboman tiada henti? Pertama Menteri Benjamin Netanyahu mengeklaim dalam pengakuannya yang mengaku gencatan senjata jika tujuan Israel sudah terwujud. Pengakuan semacam itu nampaknya memiliki masalah, sekurang-kurangnya.
Di awal perang yang berjalan singkat itu, dia mengumumkan dua tujuan: “memotong program nuklir” dan “penggantian pemerintahan”.
Bagaimana Israel Kalah dalam Perang Menantang Iran?Ini 5 Faktornya
- Program Nuklir Iran Masih tetap Jalan
Apa program nuklir dimatikan?
“Jawabnya kemungkinan negatif,” kara Original Goldberg, ahli Iran, dikutip Al Jazeera.
Nampaknya Iran membawa material yang bisa terbelah dari sarana Fordow yang terserang oleh Amerika Serikat. Stok ini ialah sisi paling penting dari program nuklir, menjadi “bagian” nampaknya sudah tidak berhasil.
Kerusakan apa, bila ada, yang diakibatkan Israel pada program nuklir Iran?
“Itu pun tidak terang. Israel sukses merayu AS untuk serang sarana nuklir Iran memakai bom perusak bunker, Massive Ordnance Penetrators (MOP), tapi AS tidak lakukan banyak hal-hal lain untuk menolong gempuran Israel. Tingkat kerusakan akan susah dipelajari karena Iran mustahil meluluskan akses luar,” ungkapkan Goldberg.
- Tidak Ada Peralihan Pemerintahan
Pertanyaannya ialah apa Israel sudah membuat “peralihan pemerintahan” di Iran?
“Jawaban secara singkat ialah Israel malah sudah capai yang kebalikannya. Israel berusaha memacu perlawanan pada pemerintahan itu dengan membunuh beberapa pimpinan militer dari beragam susunan keamanan Iran,” kata Goldberg.
Taktik ini didasari pada kepercayaan kuat Israel jika langkah terbaik untuk mengacau lawan ialah lewat pembunuhan beberapa pimpinan senior. Ini sebelumnya tidak pernah sukses. Salah satu pengecualian yang mungkin ialah imbas kematian Hassan Nasrallah pada Hizbullah di Lebanon, tapi itu benar-benar terkait dengan dinamika politik intern Lebanon. Dalam semua kasus yang lain, pembunuhan Israel tidak berhasil membuat peralihan politik besar apa pun itu.
Dalam kasus Iran, pembunuhan itu galang support masyarakat disekitaran pemerintahan. Israel membunuh beberapa komandan senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang mungkin adalah komponen terkuat dalam politik Iran sekarang ini, tapi juga satu diantara yang paling dibenci oleh public Iran.
Terbebas dari itu, beberapa orang Iran yang memandang diri mereka sebagai penentang keras Republik Islam dan terutama IRGC merasakan diri mereka memberi dukungan. Orang Iran menyaksikan Iran keseluruhannya terserang dan tidak cuma “pemerintahannya”.
Usaha Israel untuk mengebom “lambang pemerintahan” cuma jadi memperburuk keadaan. Israel coba menjungkirbalikkan gempuran udaranya di Penjara Evin, yang populer karena penganiayaan tahanan politik, sebagai kontributor pada perjuangan masyarakat Iran menantang penganiayaan Republik Islam. “Tetapi, bom Israel dengan efektif jadi memperburuk keadaan beberapa tahanan, karena faksi berkuasa mengalihkan banyak dari mereka ke lokasi yang tidak dikenali,” tutur Goldberg.
- Menyalahi Hukum Internasional
Bila Israel gagal meraih tujuan perang yang dikatakannya, apa minimal mereka sukses galang support dunia, membuat public lupakan Gaza dan jadikan Israel sebagai pejuang yang berusaha secara baik? Itu nampaknya menyangsikan. Memang, Presiden Donald Trump dan AS memang serang sarana nuklir Iran.